Apakah $100 Sehari Cukup untuk Liburan di Bali?

Apakah $100 Sehari Cukup untuk Liburan di Bali?
  • 26 Des 2025
  • 8 Komentar

Bayangkan ini: Anda bangun di kamar kecil dengan jendela menghadap sawah, suara ayam berkokok di kejauhan, dan angin laut yang masuk lewat pintu terbuka. Anda cuma punya $100-sekitar Rp1,5 juta-untuk menghabiskan seluruh hari di Bali. Cukup? Atau Anda bakal kelaparan, kebingungan, atau malah terpaksa pulang lebih awal?

Jawabannya: ya, $100 sehari cukup-tapi hanya jika Anda tahu cara mengelolanya. Banyak orang mengira Bali itu mahal, terutama karena foto-foto di Instagram yang penuh villa mewah dan restoran gourmet. Tapi kenyataannya, pulau ini punya dua wajah: satu untuk turis dengan budget tak terbatas, dan satu lagi yang jauh lebih nyata, lebih lokal, dan jauh lebih terjangkau.

Berapa Harga Makanan Sehari-hari di Bali?

Makanan adalah bagian terbesar dari anggaran harian Anda. Di warung makan lokal-bukan restoran di Seminyak atau Ubud-sepiring nasi campur bisa Anda dapatkan dengan harga Rp15.000 sampai Rp25.000. Itu termasuk nasi, lauk, sayur, dan sambal. Kalau Anda makan tiga kali sehari, totalnya cuma sekitar Rp60.000-Rp75.000. Itu belum termasuk minuman.

Kopi lokal di warung biasa? Rp8.000. Es kelapa muda? Rp10.000. Buah pisang atau jeruk di pasar tradisional? Rp5.000 per buah. Kalau Anda memilih makan seperti orang lokal, bukan seperti turis yang cari ‘pengalaman Instagram’, Anda bisa makan enak dan kenyang dengan cuma Rp80.000 sehari.

Akomodasi: Bisa Murah Banget, Tapi Jangan Salah Pilih

Hotel bintang lima? Tidak perlu. Anda tidak butuh kolam renang pribadi atau spa harian untuk menikmati Bali. Di kawasan seperti Canggu, Kuta, atau even di sekitar Gianyar, Anda bisa menemukan penginapan sederhana dengan kamar bersih, kipas angin, dan kamar mandi dalam-dengan harga Rp200.000-Rp300.000 per malam. Itu sekitar Rp10.000-Rp15.000 per jam. Tapi jangan tergoda oleh harga yang terlalu murah. Beberapa penginapan ‘murah’ di pinggir jalan raya punya masalah kebersihan, listrik mati tiba-tiba, atau air panas tidak ada.

Alternatif terbaik: pilih homestay keluarga. Mereka sering menyediakan sarapan gratis, bisa bantu pesan transportasi, dan bahkan kasih tips tempat makan lokal yang tidak ada di Google Maps. Di daerah seperti Tegallalang atau Sidemen, Anda bisa dapatkan kamar dengan pemandangan sawah selama Rp150.000-Rp200.000 per malam. Dengan $100 per hari, Anda bisa menghabiskan Rp100.000-Rp150.000 untuk penginapan dan masih punya sisa untuk makan dan transportasi.

Transportasi: Jangan Sewa Motor Kalau Tidak Percaya Diri

Motor sewa? Rp50.000-Rp70.000 per hari. Tapi itu belum termasuk bensin, asuransi, atau risiko kecelakaan. Kalau Anda tidak nyaman berkendara di jalan Bali yang ramai dan sering penuh lubang, jangan dipaksakan. Banyak turis yang akhirnya harus bayar biaya perbaikan motor atau bahkan denda polisi karena tidak punya SIM internasional.

Lebih aman dan lebih hemat: pakai Grab atau Gojek. Biaya dari Kuta ke Ubud? Sekitar Rp70.000. Dari Ubud ke Tegallalang? Rp35.000. Kalau Anda bergerak dalam radius kecil-misalnya hanya di Ubud dan sekitarnya-Anda bisa cukup pakai jalan kaki atau sewa sepeda. Sepeda roda dua? Rp25.000 per hari. Sepeda biasa? Rp15.000. Anda bisa keliling desa, melihat sawah, dan mampir ke warung makan tanpa perlu motor.

Backpacker riding a Gojek scooter through Bali's green valleys toward Tegallalang.

Tiket Masuk Wisata: Tidak Semuanya Mahal

Bali punya ratusan tempat wisata, tapi tidak semua perlu bayar mahal. Pura Tanah Lot? Rp50.000 per orang. Tapi itu hanya tiket masuk. Kalau Anda datang pagi-pagi sekali-sebelum jam 7 pagi-bisa jadi Anda bisa masuk gratis atau bayar jauh lebih murah, karena banyak warga lokal datang beribadah dan tidak dikenai biaya.

Gunung Batur? Naik ke puncak untuk lihat matahari terbit? Biaya tur lokal bisa sekitar Rp200.000-Rp300.000 per orang, termasuk pemandu dan sarapan. Tapi Anda bisa juga naik sendiri tanpa pemandu. Jalan kaki dari desa Kedisan? Gratis. Cuma perlu sepatu yang nyaman dan air minum. Banyak turis yang tidak tahu ini, dan membayar ratusan ribu hanya karena ikut tur yang sudah disiapkan.

Tempat seperti Tegalalang Rice Terrace? Masuk gratis. Anda cuma perlu bayar Rp10.000 kalau mau foto di ayunan atau di spot tertentu. Di Pantai Sanur? Gratis. Di Pantai Kuta? Gratis. Di Air Terjun Tegenungan? Rp15.000. Jadi, kalau Anda pilih 1-2 tempat berbayar per hari, dan sisanya pilih yang gratis, Anda bisa hemat ratusan ribu rupiah.

Belanja dan Souvenir: Jangan Terjebak Pasar Wisata

Souvenir di Kuta? Kalung, gelang, atau topeng kayu? Harganya bisa sampai Rp100.000-Rp200.000. Tapi kalau Anda pergi ke pasar tradisional seperti Pasar Ubud atau Pasar Badung, Anda bisa dapatkan barang yang sama dengan harga Rp15.000-Rp30.000. Tawar-menawar adalah bagian dari budaya. Jangan malu. Tawar mulai dari separuh harga, dan biasanya mereka akan setuju di harga tengah.

Jangan beli oleh-oleh di toko yang dekat pantai. Beli di pasar lokal. Kalau Anda ingin kopi Bali, beli di kafe yang punya kantor produksi sendiri, bukan di toko souvenir. Kopi luwak asli? Harganya bisa Rp250.000 per 100 gram. Tapi kopi biasa dari petani lokal? Rp50.000-Rp80.000 per 250 gram. Lebih enak, lebih autentik, dan jauh lebih murah.

Balanced scale showing money on one side and cultural serenity on the other.

Bagaimana Anggaran 0 Sehari Bekerja?

Berikut contoh nyata pengeluaran sehari di Bali dengan anggaran $100 (Rp1,5 juta):

  • Makan 3x: Rp75.000
  • Penginapan: Rp150.000
  • Transportasi (Grab + jalan kaki): Rp50.000
  • Tiket masuk wisata: Rp30.000
  • Minuman dan camilan: Rp25.000
  • Souvenir kecil: Rp20.000
  • Biaya tak terduga: Rp50.000

Total: Rp400.000. Itu cuma sepertiga dari $100. Artinya, Anda punya sisa Rp1,1 juta-atau sekitar $75-untuk hal lain: spa lokal, tur snorkeling, atau bahkan sekadar duduk di kafe dan menikmati sunset.

Yang Harus Dihindari Agar Tidak Melebihi Budget

Beberapa hal yang bisa bikin anggaran Anda meledak:

  • Sewa mobil atau motor tanpa pengalaman
  • Makan di restoran yang ada tulisan ‘international cuisine’ di depannya
  • Membeli tiket wisata lewat agen tur yang menawarkan ‘paket all-inclusive’
  • Belanja di toko yang hanya menerima kartu kredit
  • Minum air kemasan terus-menerus (gunakan botol isi ulang dan filter air)

Anda tidak perlu jadi pelit. Tapi Anda harus bijak. Bali bukan tempat untuk memamerkan uang. Ini adalah tempat untuk merasakan budaya, alam, dan kehidupan sehari-hari orang-orang di sana. Dan itu semua bisa Anda rasakan tanpa harus menghabiskan ribuan dolar.

Kesimpulan: $100 Sehari Bisa Lebih dari Cukup

Di Bali, uang tidak selalu menentukan kualitas pengalaman. Yang penting adalah cara Anda bergerak, makan, dan berinteraksi. Dengan $100 sehari, Anda bisa tinggal di tempat yang tenang, makan makanan lokal yang lezat, menjelajahi tempat-tempat indah tanpa kerumunan, dan bahkan punya uang sisa untuk beli oleh-oleh yang bermakna.

Bali bukan tentang kemewahan. Bali adalah tentang ketenangan. Dan itu, tidak perlu mahal.

Apakah $100 sehari cukup untuk dua orang di Bali?

Ya, tapi perlu pengelolaan yang lebih ketat. Untuk dua orang, anggaran ideal sekitar $160-$180 per hari. Anda bisa berbagi penginapan, makan bersama di warung lokal, dan menggunakan satu motor atau taksi untuk berkeliling. Jika tetap memaksakan $100, Anda harus mengurangi jumlah tempat wisata berbayar dan memilih akomodasi yang sangat sederhana.

Apakah saya bisa bertahan tanpa kartu kredit di Bali?

Sangat bisa. Hampir semua warung makan, penginapan lokal, dan pasar tradisional hanya menerima uang tunai. Anda tidak perlu kartu kredit untuk naik Gojek, beli tiket masuk pura, atau beli kopi. Pastikan Anda bawa uang tunai dalam rupiah. ATM tersedia di kota-kota besar, tapi di desa-desa kecil, Anda mungkin tidak menemukannya. Simpan cadangan uang di tempat yang aman.

Berapa biaya harian turis biasa di Bali?

Turis rata-rata menghabiskan $75-$150 per hari. Mereka yang menghabiskan di bawah $75 biasanya backpacker yang tinggal di hostel dan makan di warung. Yang menghabiskan $150-$300 biasanya tinggal di villa kecil, makan di restoran kafe, dan sewa motor. Di atas $300, itu sudah masuk kategori liburan mewah.

Apakah air minum kemasan wajib di Bali?

Tidak wajib, tapi disarankan. Air keran di Bali tidak aman diminum langsung. Solusi terbaik: beli botol air mineral 5 liter (Rp15.000-Rp20.000) dan isi ulang botol kecil Anda. Banyak penginapan dan kafe menyediakan tempat isi ulang gratis. Ini lebih hemat dan lebih ramah lingkungan daripada beli botol kecil setiap hari.

Di mana tempat terbaik untuk tinggal jika budget saya terbatas?

Pilih daerah yang jauh dari pusat wisata utama. Tegallalang, Sidemen, atau even Desa Trunyan di Danau Batur punya penginapan murah, suasana tenang, dan akses ke alam yang luar biasa. Anda bisa naik motor atau taksi ke Ubud atau Kuta kalau ingin keluar, tapi tinggal di tempat yang tenang jauh lebih hemat dan lebih otentik.

Dikirim oleh: Putri Astari

Komentar

Olivia Urbaniak

Olivia Urbaniak

Desember 28, 2025 AT 04:30 AM

Wah, ini beneran ngebantu banget! Aku baru pulang dari Bali minggu lalu dan ngelakuin persis ini-makan di warung, naik Gojek, tidur di homestay Tegallalang. Pas banget sama budget $100, malah masih ada sisa buat beli kopi luwak asli dari petani. Gak perlu mahal buat nikmatin keindahan, yang penting niatnya beneran mau nyemplung ke budayanya.

Yang bikin aku seneng? Pas pagi-pagi banget ke Pura Tanah Lot, cuma aku sama dua orang lokal yang lagi sembahyang. Gak ada turis, gak ada foto-foto, cuma tenang. Itu yang beneran bikin hati lega.

duwi purwanto

duwi purwanto

Desember 28, 2025 AT 08:19 AM

Ini postingan keren banget. Aku juga pernah coba budget $100 sehari, dan ternyata bisa. Yang bikin aku kaget? Pas beli pisang sama jeruk di pasar, penjualnya kasih gratis satu buah lagi karena liat aku makan pake tangan. Bali itu emang gak cuma soal uang, tapi soal hati.

Soal air minum? Aku pake botol isi ulang dari rumah, dan semua homestay yang aku singgahi kasih air gratis. Ramah lingkungan + hemat. Win-win.

Yudha Kurniawan Akbar

Yudha Kurniawan Akbar

Desember 29, 2025 AT 08:59 AM

HAHAHAHA $100? Kalo gue jalan-jalan ke Bali pake duit segitu, gue bakal tidur di warung nasi, makan sambal doang, trus nyari tempat buat ngecek wifi gratis biar bisa upload ke IG ‘aku hidup sederhana di Bali’ 😂

Kalo emang mau hidup kayak orang lokal, ya jangan foto-foto di ayunan Tegalalang terus tag #BaliBudgetLife. Orang lokal gak pada ngeliat pemandangan, mereka lagi nyari makanan buat anaknya.

BTW, siapa yang nulis ini? Gue yakin dia pernah nginap di penginapan Rp50k yang listriknya mati tiap jam 10 malem. Aku tau, gue pernah. 🤡

Aiman Berbagi

Aiman Berbagi

Desember 29, 2025 AT 10:36 AM

Ini komentar yang perlu dibaca semua orang yang pengen ke Bali. Banyak yang datang dengan mindset ‘saya bayar, saya dapat yang terbaik’. Padahal, keindahan Bali itu ada di detail kecil: senyum penjual es kelapa, ibu-ibu yang nyiapin nasi campur pagi-pagi, anak-anak yang main bola di jalan desa.

Uang gak beli pengalaman, tapi cara kita melihat yang bikin pengalaman itu berarti. Jangan cuma cari spot foto, cari cerita. Dan kalau kamu bisa makan nasi campur Rp18.000 sambil duduk di bangku plastik sambil dengerin obrolan warga, kamu udah menang.

Terima kasih buat postingan ini. Semoga banyak yang baca dan ngerti.

P.S. Kalau kamu ke Sidemen, cari warung Bu Siti. Nasi gorengnya pake daun pisang, dan dia selalu kasih extra lauk buat yang datang sendirian. Itu Bali yang asli.

yonathan widyatmaja

yonathan widyatmaja

Desember 31, 2025 AT 06:00 AM

🔥🔥🔥 BENER BANGET INI! Aku udah coba semua yang disebutin di sini, dan hasilnya? Gak pernah sejauh ini aku merasa ‘di rumah’ di tempat asing. 💪

Yang paling keren? Pas aku beli kopi di pasar Badung, penjualnya ngajak ngobrol soal kopi Arabika vs Robusta. Aku gak ngerti, tapi dia ngajarin aku pake bahasa tubuh + contoh rasa. Itu lebih berharga dari semua tour guide mahal di dunia. 🤝☕

PS: jangan lupa bawa botol minum! Aku pake botol bekas teh botol, dicuci, diisi ulang. 3 minggu, gak beli 1 botol air kemasan. 🌍💚

muhamad luqman nugraha sabansyah

muhamad luqman nugraha sabansyah

Desember 31, 2025 AT 22:33 PM

Ini semua omong kosong. $100 sehari? Di Bali? Kamu kira Bali itu negara miskin? Kalo kamu beneran mau hemat, ya tinggal di gubuk, makan nasi garam, dan jangan mandi. Tapi itu bukan liburan, itu hukuman.

Orang yang nulis ini pasti belum pernah ke Bali versi nyata. Di sini, semua jadi mahal kalau kamu mau hidup layak. Air bersih? Mahal. Listrik? Sering padam. Transportasi? Macet 2 jam cuma buat 10 km. Makanan? Kalau kamu mau yang sehat, kamu harus bayar lebih.

Ini bukan ‘budget travel’, ini delusi. Orang-orang yang nulis ini cuma pengen terlihat bijak. Padahal mereka cuma takut belanja.

Liburan itu bukan soal berapa banyak kamu hemat. Tapi seberapa banyak kamu nikmati. Dan Bali? Bali itu mahal karena nilainya tinggi. Jangan coba-coba menghina nilai itu dengan cerita-cerita murah meriah.

wawan setiawan

wawan setiawan

Januari 2, 2026 AT 18:26 PM

Ada keindahan dalam kesederhanaan, tapi jangan sampai kita jadi romantisisasi kemiskinan. Orang lokal yang jual nasi campur Rp15.000? Mereka kerja 12 jam sehari. Mereka gak ‘hidup sederhana’ karena pilihannya-tapi karena tidak punya pilihan lain.

Menjadi turis yang bijak bukan berarti memaksa diri hidup seperti mereka. Tapi memahami bahwa setiap rupiah yang kamu habiskan, ada manusia di baliknya.

Bayar harga yang adil. Jangan tawar sampai harga Rp5.000 buat kopi. Jangan minta ‘gratis’ karena kamu ‘turis hemat’. Jangan foto ayunan di sawah terus tag #BaliLife tanpa ngerti itu tanah yang dikerjakan orang tua tua setiap pagi.

Kita bisa nikmati Bali tanpa mengambil kehidupan mereka. Itu yang lebih dalam dari $100 atau $1000.

Dani leam

Dani leam

Januari 3, 2026 AT 23:33 PM

Baru aja balik dari Bali, 14 hari, budget $105/hari. Semua data di atas akurat. Tambahan: kalau mau hemat, beli air mineral 5L di minimarket (Rp15.000), isi botol kecil tiap pagi. Bawa obat sakit perut dan antiseptik-lebih penting daripada kamera.

Untuk transportasi: kalau mau ke Tegallalang dari Ubud, naik angkot lokal (Rp10.000). Gak ada yang jual tiket, cuma bayar ke supir. Gak ada GPS, tanya orang. Itu bagian petualangannya.

Yang paling penting: jangan terburu-buru. Kalau kamu bisa duduk 30 menit di warung, ngobrol sama penjualnya, kamu udah dapat lebih dari semua tempat wisata yang ada.

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan