Berapa Banyak Uang Tunai yang Harus Dibawa ke Bali? Panduan Praktis 2025

Berapa Banyak Uang Tunai yang Harus Dibawa ke Bali? Panduan Praktis 2025
  • 23 Nov 2025
  • 11 Komentar

Bayangkan ini: Anda baru saja turun dari pesawat di Bandara Ngurah Rai, tas ringan, senyum lebar, dan dompet kosong. Tiba-tiba, Anda sadar-uang tunai untuk Bali itu berapa sebenarnya? Banyak yang salah paham. Mereka pikir kartu debit atau kredit cukup, lalu terjebak di warung nasi padang yang hanya terima cash. Atau malah bawa terlalu banyak uang, takut dicuri, dan akhirnya stres sepanjang liburan.

Di Bali, uang tunai masih jadi nyawa perjalanan. Bahkan di tempat yang terlihat modern, banyak bisnis kecil-mulai dari penjual jajanan pinggir jalan, penyewaan sepeda, sampai pura kecil yang menerima donasi-hanya menerima rupiah. Kartu dan e-wallet belum jadi solusi universal. Jadi, pertanyaannya bukan apakah Anda butuh uang tunai, tapi berapa banyak yang sebaiknya Anda bawa.

Biaya Harian Rata-Rata di Bali (2025)

Untuk tahu berapa uang tunai yang harus dibawa, Anda harus tahu berapa biaya harian Anda. Ini bukan angka tebak-tebakan. Berdasarkan data dari ribuan wisatawan lokal dan mancanegara yang mengisi log perjalanan di aplikasi seperti TripIt dan Travello, rata-rata pengeluaran per hari di Bali tahun 2025 adalah:

  • Wisatawan hemat: Rp250.000-Rp350.000 per hari. Ini untuk makan sederhana, transportasi ojek online, tiket masuk tempat wisata murah, dan oleh-oleh kecil.
  • Wisatawan biasa: Rp400.000-Rp700.000 per hari. Makan di restoran lokal, sewa motor, masuk ke beberapa tempat wisata populer, dan belanja oleh-oleh khas.
  • Wisatawan mewah: Rp1.000.000-Rp2.500.000 per hari. Restoran mewah, private driver, spa, dan belanja di toko branded.

Jika Anda paket wisata Bali sudah mencakup akomodasi dan makan, Anda hanya perlu menyisihkan uang untuk transportasi, tiket masuk, dan belanja. Tapi jangan lupa-biaya tak terduga selalu muncul. Misalnya, mobil rusak di jalan, Anda ingin ikut kelas memasak dadakan, atau tiba-tiba ingin naik ke Pura Luhur Uluwatu saat matahari terbenam.

Di Mana Uang Tunai Masih Wajib?

Anda mungkin berpikir: ‘Tahun 2025, kan sudah digital?’ Tapi kenyataannya, di Bali, uang tunai masih jadi pilihan utama di banyak tempat:

  • Warung makan dan pedagang kaki lima: 95% dari warung nasi campur, sate, dan nasi goreng pinggir jalan hanya terima uang tunai. Tidak ada QRIS, tidak ada kartu.
  • Pasar tradisional: Pasar Ubud, Pasar Badung, Pasar Kumbasari-semua transaksinya cash. Harga bisa tawar-menawar, tapi harus bayar langsung.
  • Pura dan situs budaya: Banyak pura kecil, seperti Pura Tirta Empul atau Pura Besakih, masih menerima donasi dalam bentuk uang tunai. Uang itu bukan tiket masuk, tapi persembahan. Tidak ada sistem pembayaran digital.
  • Penyewaan sepeda, motor, dan perahu: Kebanyakan penyewa di Kuta, Seminyak, atau Nusa Dua tidak punya mesin EDC. Mereka terima uang muka tunai, lalu kembalikan saat Anda kembali.
  • Tukang ojek dan taksi tradisional: Ojek online seperti Gojek dan Grab sudah terima pembayaran digital, tapi taksi biasa (yang masih banyak di daerah terpencil) hanya terima cash.

Kecuali Anda tinggal di hotel bintang lima dengan restoran dalam gedung, Anda tidak akan bisa menghindari uang tunai. Bahkan di kawasan premium seperti Seminyak, restoran kecil yang dikelola keluarga-yang punya makanan terenak-sering tidak punya mesin kartu.

Bagaimana Cara Membawa Uang Tunai dengan Aman?

Bawa terlalu banyak? Risiko dicuri. Bawa terlalu sedikit? Anda terjebak di jalan, tidak bisa beli air mineral, atau harus minta pinjam dari teman. Solusinya? Strategi bertahap.

  • Bawa uang tunai dalam pecahan kecil: Siapkan banyak uang Rp20.000 dan Rp50.000. Ini paling berguna untuk transaksi sehari-hari. Tidak perlu bawa pecahan Rp100.000 kecuali untuk pembayaran besar seperti sewa villa.
  • Pisahkan uang: Simpan uang di dua tempat berbeda-satu di dompet, satu di kantong sepatu atau pouch anti air di dalam tas. Jika satu hilang, Anda masih punya cadangan.
  • Jangan bawa semua uang sekaligus: Ambil uang tunai sesuai kebutuhan harian. Misalnya, ambil Rp500.000 per hari dari ATM, bukan semua uang sekaligus dari bank.
  • Gunakan dompet anti skimming: Jika Anda khawatir kartu Anda dibaca ilegal, beli dompet khusus yang blokir sinyal RFID. Ini murah, sekitar Rp30.000 di toko online.

Di Bali, pencopetan memang ada, tapi jarang terjadi pada wisatawan yang waspada. Yang paling sering jadi korban adalah orang yang terlalu terbuka-menyimpan dompet di saku belakang, atau menunjukkan uang banyak di tempat ramai.

Wisatawan bernegosiasi di Pasar Ubud, membayar dengan uang tunai rupiah kepada pedagang lokal.

ATM di Bali: Aman dan Mudah Ditemukan

Jangan takut kehabisan uang. ATM di Bali sangat banyak. Di bandara, Anda bisa ambil uang langsung setelah keluar dari imigrasi. Di kota besar seperti Denpasar, Kuta, Seminyak, dan Ubud, ATM ada setiap 200 meter. Bank-bank lokal seperti BCA, BRI, Mandiri, dan Danamon punya jaringan luas.

Beberapa hal penting:

  • Biaya penarikan: Rata-rata Rp15.000-Rp20.000 per transaksi. Jika Anda punya rekening di bank yang punya kerja sama dengan bank Indonesia (misalnya, Bank of America), biayanya bisa lebih rendah.
  • Limit harian: Biasanya maksimal Rp10 juta per hari. Jika Anda butuh lebih, tarik dua kali di ATM berbeda.
  • ATM dengan logo PLUS atau Cirrus: Kartu asing Anda akan bisa digunakan. Jangan coba pakai kartu tanpa logo ini-bisa gagal.
  • Gunakan ATM di dalam bank: Lebih aman daripada ATM di pinggir jalan. Di tempat ramai seperti Kuta, ATM di dalam bank punya petugas keamanan.

Anda juga bisa pakai layanan uang digital seperti OVO, GoPay, atau DANA. Tapi ingat-hanya di tempat tertentu. Restoran besar, toko oleh-oleh, dan beberapa hotel sudah terima e-wallet. Tapi untuk hal-hal kecil, tetap butuh uang tunai.

Contoh Anggaran Uang Tunai untuk 5 Hari di Bali

Ini contoh nyata untuk wisatawan biasa yang paket wisata Bali-nya sudah mencakup akomodasi dan sarapan:

Anggaran Uang Tunai untuk 5 Hari di Bali (2025)
Kategori Biaya Per Hari Biaya Total (5 Hari)
Makan siang dan malam Rp200.000 Rp1.000.000
Transportasi (motor sewa + ojek) Rp100.000 Rp500.000
Tiket masuk tempat wisata Rp50.000 Rp250.000
Oleh-oleh dan belanja Rp75.000 Rp375.000
Biaya tak terduga (air mineral, tips, dll) Rp50.000 Rp250.000
Total Rp475.000 Rp2.375.000

Jadi, untuk 5 hari, Anda butuh sekitar Rp2,5 juta uang tunai. Tambahkan 10% sebagai cadangan-jadi bawa Rp2,75 juta. Itu cukup untuk semua kebutuhan harian tanpa stres.

Tas perjalanan dengan uang tunai rupiah disimpan aman di dompet anti-skimming dan kantong sepatu.

Yang Harus Dihindari

Beberapa kesalahan umum yang sering dilakukan wisatawan:

  • Membeli mata uang di bandara: Kursnya buruk. Di bandara, Anda bisa dapat Rp14.500 per dolar AS. Di kota, bisa sampai Rp15.600. Selisihnya besar.
  • Membawa uang dalam dolar atau euro: Tidak banyak yang terima. Anda harus tukar dulu ke rupiah, dan biaya tukar uang di tempat wisata bisa 10-15%.
  • Mengandalkan satu sumber uang: Jangan hanya bawa kartu, atau hanya bawa cash. Selalu punya keduanya.
  • Menyimpan uang di kantong celana: Ini cara paling mudah untuk jadi korban pencopet.

Di Bali, uang tunai bukan hal kuno. Ini adalah alat yang masih hidup, dibutuhkan, dan sangat praktis. Yang perlu Anda lakukan bukan menghindarinya, tapi mengelolanya dengan cerdas.

Uang Tunai untuk Bali: Kesimpulan

Anda tidak perlu membawa ratusan juta rupiah. Tapi Anda juga tidak boleh datang dengan dompet kosong. Kunci utamanya adalah keseimbangan. Bawa cukup uang tunai untuk kebutuhan harian-sekitar Rp500.000 per hari-dan sisanya tetap di rekening atau kartu. Gunakan ATM untuk mengambil uang sesuai kebutuhan, jangan bawa semua sekaligus.

Di Bali, uang tunai bukan soal tradisi. Ini soal kepraktisan. Tempat-tempat yang paling otentik, paling berkesan, dan paling murah-justru tidak menerima kartu. Jadi, bawa uang tunai yang cukup, simpan dengan aman, dan nikmati liburan Anda tanpa khawatir.

Apakah bisa bayar pakai kartu kredit di Bali?

Ya, bisa-tapi hanya di tempat tertentu. Hotel bintang lima, restoran besar, toko oleh-oleh di pusat perbelanjaan, dan beberapa spa menerima kartu kredit. Tapi sebagian besar warung makan, pasar tradisional, penyewaan motor, dan pura-pura kecil hanya terima uang tunai. Jangan mengandalkan kartu sebagai satu-satunya alat pembayaran.

Berapa banyak uang tunai yang direkomendasikan untuk 7 hari di Bali?

Untuk wisatawan biasa, rekomendasi uang tunai untuk 7 hari adalah sekitar Rp3,5 juta hingga Rp4 juta. Ini asumsi Anda sudah punya akomodasi dan sarapan. Jika Anda lebih hemat, Anda bisa cukup dengan Rp3 juta. Jika Anda sering makan di restoran atau belanja banyak, siapkan sampai Rp5 juta. Selalu tambahkan 10% sebagai cadangan.

Apakah bisa tukar uang di Bali? Di mana?

Ya, banyak tempat tukar uang di Bali. Yang paling aman dan dapat kurs terbaik adalah money changer resmi di kota seperti Denpasar, Kuta, dan Ubud. Hindari tukar uang di bandara karena kursnya jelek. Juga hindari tukar uang dari orang jalan-bisa jadi uang palsu. Cari money changer yang punya papan harga jelas dan lisensi resmi dari OJK.

Apakah uang rupiah dari Indonesia bisa dipakai di luar Bali?

Uang rupiah hanya berlaku di Indonesia. Jika Anda pergi ke Nusa Penida, Gili Trawangan, atau Lombok, uang rupiah tetap bisa dipakai-karena semuanya bagian dari Indonesia. Tapi jika Anda pergi ke luar negeri seperti Singapura atau Malaysia, uang rupiah tidak bisa dipakai. Jangan bawa pulang uang rupiah dalam jumlah besar-lebih baik tukarkan kembali sebelum pulang.

Apa yang harus dilakukan jika uang tunai habis di tengah perjalanan?

Jika uang tunai habis, cari ATM terdekat. Di Bali, ATM ada di mana-mana-bahkan di desa-desa kecil. Jika Anda tidak punya kartu, cari toko yang terima e-wallet seperti GoPay atau OVO, lalu minta tolong teman atau staf hotel untuk transfer uang ke e-wallet Anda. Jika tidak ada opsi itu, minta bantuan ke pihak hotel. Banyak hotel bersedia memberi pinjaman uang tunai ke tamu, dengan syarat Anda bisa bayar saat check-out.

Dikirim oleh: Putri Astari

Komentar

yonathan widyatmaja

yonathan widyatmaja

November 23, 2025 AT 20:13 PM

Baru turun dari pesawat, dompet kosong, terus liat warung nasi padang cuma terima cash 🤯
Udah gitu, pas mau bayar ojol, driver bilang 'maaf mas, gak bisa QRIS, cash aja' 😭
Baru sadar, Bali itu kayak game RPG-uang tunai itu health potion wajib! 💰🎮
Ngga usah bawa 10 juta, cukup 500k/hari, biar nggak jadi target copet. Jangan lupa, dompet anti-skimming, jangan simpen di saku belakang! 😎

muhamad luqman nugraha sabansyah

muhamad luqman nugraha sabansyah

November 24, 2025 AT 08:05 AM

Ini panduan yang paling bodoh yang pernah aku baca. Semua orang tahu uang tunai penting, tapi kamu ngomong kayak orang tahun 2010.
Di Seminyak, 80% tempat udah terima OVO, DANA, GoPay. Bahkan penjual es kelapa di jalan pun ada QRISnya sekarang.
Kamu bikin orang takut bawa kartu, padahal itu lebih aman. Uang tunai itu risikonya tinggi, bukan 'nyawa perjalanan'-itu omong kosong nostalgia.
Orang-orang yang masih percaya ini cuma karena malas update info. Jangan jadi korban FOMO finansial.

wawan setiawan

wawan setiawan

November 25, 2025 AT 19:34 PM

Menarik bagaimana kita mengubah kepraktisan jadi mitos. Uang tunai bukan 'nyawa perjalanan'-itu cuma alat yang belum dimutakhirkan oleh sistem yang belum merata.
Di Bali, uang tunai masih dipakai bukan karena lebih baik, tapi karena infrastruktur digital belum menyentuh semua lapisan.
Ini bukan soal tradisi, ini soal ketimpangan. Kita memuji 'keotentikan' padahal sebenarnya kita membiarkan pedagang kecil tetap terpinggirkan dari kemajuan.
Apakah kita ingin liburan yang otentik... atau sistem yang adil?
Atau mungkin kita cuma nyaman dengan kekacauan yang terasa 'local'?

Dani leam

Dani leam

November 26, 2025 AT 01:52 AM

Angka yang diberikan cukup akurat berdasarkan data terbaru dari survei wisatawan 2024-2025.
Untuk wisatawan biasa, Rp450.000–600.000/hari itu realistis, terutama jika termasuk sewa motor dan tiket pura.
ATM di Bali memang banyak, tapi pastikan kartu kamu punya logo Cirrus atau PLUS. Kartu tanpa logo itu sering gagal, terutama di ATM non-bank.
Untuk cadangan, lebih baik bawa 1-2 kartu debit dari bank berbeda. Jangan hanya andalkan satu sumber.

Yuliana Preuß

Yuliana Preuß

November 26, 2025 AT 15:41 PM

Wah, ini bener-bener ngerti budaya Bali! 🙏
Di pura-pura kecil, uang tunai itu bukan bayaran-itu doa yang disalurkan lewat uang. Aku pernah kasih Rp5.000 di Pura Luhur Uluwatu, pas matahari terbenam, rasanya kayak nyambung sama alam.
Ngga semua transaksi harus digital. Ada keindahan di uang kertas yang diserahkan langsung, ada hubungan manusia di sana.
Terima kasih, ini nggak cuma panduan, ini pelajaran hidup. 🌅💛

Emsyaha Nuidam

Emsyaha Nuidam

November 27, 2025 AT 06:48 AM

Ini panduan untuk orang yang masih pakai flip phone tahun 2012. 😒
Di 2025? Di mana-mana ada QRIS. Bahkan penjual kue lapis di pasar tradisional udah scan QR.
Uang tunai itu risiko, bukan kebutuhan. Kamu bikin orang takut, padahal yang sebenarnya takut itu orang yang nggak mau berubah.
Belum lagi, uang receh Rp20.000? Itu cuma buat orang yang nggak bisa hitung. Kita bukan di pasar tradisional tahun 2005.
Ini panduan yang bikin Indonesia terlihat ketinggalan zaman. 🤦‍♀️

Dani Bawin

Dani Bawin

November 28, 2025 AT 12:54 PM

Ini beneran? Aku baru aja ke Bali bulan lalu, bawa 3 juta cash, habis 2,5 juta. Tapi pas mau bayar di warung sate di Kuta, tukangnya bilang 'bisa OVO juga, mas' 😳
Terus aku liat, semua warung sekarang ada stiker QRIS. Bahkan penjual pisang goreng! 🤯
Kamu nggak update info, bro. Ini 2025, bukan 2015. Jangan bikin orang takut bawa kartu. Aku malah bawa 100k cash, sisanya kartu. Gak ada masalah. 💸

Agus Setyo Budi

Agus Setyo Budi

November 29, 2025 AT 01:40 AM

Guys jangan panik ya! Uang tunai emang penting tapi jangan sampe bikin stres
aku bawa 500k per hari aja dan itu udah lebih dari cukup
ATM di mana-mana dan kartu kredit bisa dipakai di banyak tempat sekarang
yang penting jangan bawa semua uang di satu tempat
dan jangan lupa bawa dompet anti skimming! 😎
liburan itu bukan buat khawatir tapi buat nikmatin
semangat dan tetap tenang ya!

Marida Nurull

Marida Nurull

November 29, 2025 AT 12:28 PM

Saya setuju dengan poin tentang membagi uang ke dua tempat berbeda. Saya pernah kehilangan dompet di Ubud, tapi masih punya cadangan di kantong sepatu. Tidak ada yang bisa saya katakan selain 'selamat tinggal uang', tapi setidaknya saya bisa makan dan pulang.
Untuk ATM, pastikan pakai yang di dalam bank, bukan yang di pinggir jalan. Saya lihat dua kasus kartu tertelan di ATM luar bank.
Uang receh Rp20.000 memang paling berguna. Saya selalu bawa 10 lembar, itu cukup untuk 3-4 transaksi harian.
Untuk e-wallet, OVO lebih luas jangkauannya daripada DANA di daerah terpencil.

retno kinteki

retno kinteki

Desember 1, 2025 AT 05:19 AM

Ini panduan buat orang yang masih percaya mitos. 2025? Di Bali, semua warung udah QRIS. Bahkan penjual kopi keliling pun scan QR.
Kamu sengaja bikin orang takut biar mereka tetap jadi korban sistem? 🤨
ATM di Bali? Ya, tapi banyak yang jadi tempat skimming. Jangan percaya 'ATM di dalam bank aman'-itu omong kosong.
Yang benar: bawa kartu, jangan bawa uang. Kalau kamu butuh cash, tarik dari ATM bank besar. Jangan percaya 'cadangan 10%'-itu trik buat bikin orang bawa lebih banyak uang.
Ini panduan yang sengaja bikin orang bingung. Tidak ada yang perlu bawa 2,5 juta. Cukup 1 juta, sisanya pakai kartu. Gampang.

bayu liputo

bayu liputo

Desember 2, 2025 AT 02:16 AM

Sebagai warga Indonesia yang pernah mengalami perjalanan ke Bali selama tujuh hari, saya ingin menegaskan bahwa panduan ini sangat penting untuk wisatawan asing maupun lokal yang belum terbiasa dengan ekosistem pembayaran di pulau ini
Uang tunai memang masih menjadi tulang punggung transaksi di tingkat mikro dan komunitas lokal
Tapi jangan salah, digitalisasi sedang bergerak cepat dan kita semua harus adaptif
Yang penting adalah keseimbangan bukan ketakutan
Gunakan kartu untuk transaksi besar dan tunai untuk kebutuhan sehari-hari
Simpan uang dengan bijak dan jangan pernah menunjukkan jumlah besar di tempat umum
Ini bukan soal tradisi, ini soal kecerdasan finansial dan keselamatan pribadi
Terima kasih atas informasi yang sangat bermanfaat

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan