kuliner tradisional Bali, sistem makanan yang berkembang dari kepercayaan, musim, dan bahan lokal yang diwariskan selama ratusan tahun. Also known as masakan Bali, it is more than food—it’s a daily ritual, a form of prayer, and a way the Balinese connect with their ancestors. Kalau kamu pernah lihat nasi kuning di atas daun pisang, atau ayam betutu yang dibungkus daun pisang dan dipanggang perlahan, itu bukan cuma hidangan. Itu adalah cerita yang dimasak.
Kuliner tradisional Bali tidak bisa dipisahkan dari ritual keagamaan, kegiatan spiritual yang mengatur waktu, bahan, dan cara penyajian makanan. Setiap hari raya punya menu khusus: Idul Fitri punya lawar, Galungan punya bebek betutu, dan Nyepi punya makanan yang tidak dimasak sama sekali. Ini bukan kebetulan. Ini aturan yang dijaga turun-temurun. Bahan-bahannya juga spesifik: bumbu dasar seperti bawang merah, bawang putih, cabai rawit, kemiri, dan lengkuas—semua diulek manual, bukan diblender. Rasanya beda. Lebih dalam. Lebih hidup.
Tempat kamu makan juga penting. Di warung pinggir jalan di Ubud, kamu bisa coba lawar, campuran daging cincang, kelapa parut, dan sayuran segar yang diolah dengan bumbu khas yang rasanya gurih, pedas, dan sedikit manis. Di Jimbaran, ikan bakar yang baru ditangkap disajikan dengan sambal matah, bumbu yang dibuat dalam hitungan menit tapi rasanya bertahan sepanjang hari. Dan jangan lewatkan sate lilit, daging ikan atau ayam yang diaduk dengan kelapa dan rempah, lalu dililitkan ke bambu dan dipanggang. Ini bukan makanan yang kamu temukan di restoran biasa. Ini makanan yang hidup di pasar, di halaman rumah, di depan pura.
Kamu tidak perlu bayar mahal untuk rasain ini. Yang penting tahu di mana cari. Di pasar tradisional seperti Pasar Badung atau Pasar Kumbasari, kamu bisa makan sepuasnya dengan harga di bawah Rp20.000. Di rumah warga yang buka warung keluarga, kamu bahkan bisa ikut lihat cara mereka masak—dari ngeprek bumbu sampai nyalain api dari kayu bakar. Ini bukan tur makan. Ini belajar hidup.
Dalam koleksi artikel di bawah ini, kamu akan temukan panduan nyata tentang kuliner tradisional Bali: di mana cari makanan autentik, berapa harga sebenarnya, apa yang harus kamu coba pertama kali, dan yang paling penting—bagaimana kamu bisa makan dengan cara yang menghormati budayanya. Tidak ada daftar restoran mahal. Hanya tempat-tempat yang benar-benar dijaga oleh orang Bali, untuk orang Bali, dan sekarang juga untuk kamu.
Temukan kelezatan otentik Bali melalui tur kuliner yang menggabungkan makanan tradisional, budaya lokal, dan pengalaman langsung di warung-warung terbaik dari Ubud hingga Denpasar.