Bayangkan ini: kamu baru saja mendarat di Bandara Ngurah Rai dengan koper penuh oleh oleh dan kantong uang AUD yang tebal. Tapi saat kamu keluar dari bandara, kamu bingung - apakah uang ini cukup untuk 10 hari di Bali? Banyak turis datang dengan asumsi bahwa AUD itu kuat, jadi pasti cukup. Tapi kenyataannya, uang yang kamu bawa bisa habis lebih cepat dari yang kamu kira - atau justru terlalu banyak dan tersimpan di brankas hotel. Ini bukan soal berapa banyak uang yang kamu bawa, tapi berapa banyak yang benar-benar kamu butuhkan.
Biaya Harian Rata-Rata di Bali untuk Turis Asing
Di 2025, seorang turis asing rata-rata menghabiskan antara Rp600.000 hingga Rp1,5 juta per hari di Bali, tergantung gaya hidupnya. Kalau kamu tidur di guesthouse sederhana, makan di warung lokal, naik ojek online, dan cuma jalan-jalan ke pantai, kamu bisa bertahan dengan Rp600.000 per hari. Tapi kalau kamu mau makan di restoran tepi laut, naik taxi privat, atau booking spa di Ubud, angka itu bisa melonjak jadi Rp1,2 juta ke atas.
Untuk mempermudah, kita hitung rata-rata kebutuhan harian dalam AUD. Dengan kurs 1 AUD = Rp10.500 (kurs rata-rata Desember 2025), maka:
- Anggaran hemat: Rp600.000 = 57 AUD per hari
- Anggaran menengah: Rp1.050.000 = 100 AUD per hari
- Anggaran mewah: Rp1.500.000 = 143 AUD per hari
Artinya, untuk 10 hari, kamu butuh:
- Hemat: 570 AUD
- Menengah: 1.000 AUD
- Mewah: 1.430 AUD
Apa Saja yang Termasuk dalam Biaya Ini?
Banyak orang hanya memikirkan makan dan penginapan, tapi ada biaya tersembunyi yang sering dilupakan. Ini rinciannya:
- Penginapan: Guesthouse di Seminyak atau Canggu sekitar Rp300.000-Rp500.000/malam. Kalau kamu mau villa pribadi dengan kolam renang, itu bisa Rp1,5 juta-Rp3 juta per malam.
- Makan: Nasi campur di warung lokal Rp25.000-Rp40.000. Makan di restoran kafe dengan pemandangan laut? Rp100.000-Rp250.000 per orang. Kopi di cafe khusus? Rp35.000-Rp60.000.
- Transportasi: Ojek online (Gojek/Grab) ke Pantai Kuta sekitar Rp20.000-Rp40.000. Kalau kamu sewa motor, Rp70.000-Rp100.000/hari. Kalau sewa mobil dengan sopir, Rp400.000-Rp600.000/hari.
- Tiket masuk objek wisata: Tegalalang Rice Terrace Rp50.000, Tanah Lot Rp50.000, Tirta Empul Rp75.000, Monkey Forest Rp80.000. Kalau kamu mau ke 5 tempat, itu sudah Rp300.000.
- Belanja dan oleh-oleh: Kain tenun, kopi Bali, kerajinan tangan - ini bisa bikin anggaran meledak. Satu tas kain tenun bisa Rp200.000-Rp500.000. Jangan lupa anggaran ini juga.
- Biaya tak terduga: Biaya parkir, tip, air mineral, atau obat-obatan darurat. Ini sering diabaikan tapi bisa tambah Rp100.000-Rp200.000 dalam 10 hari.
Apakah Lebih Baik Bawa Uang Tunai atau Pakai Kartu?
Di Bali, uang tunai masih raja. Banyak warung, pasar tradisional, dan penginapan kecil tidak menerima kartu kredit atau debit. Bahkan restoran di Seminyak sekalipun sering punya syarat minimum belanja untuk kartu.
Kartu debit atau kredit bisa kamu pakai di ATM untuk ambil uang tunai. Tapi hati-hati: biaya tarik tunai di ATM Bali bisa sampai Rp150.000 per transaksi - itu bisa jadi mahal kalau kamu sering tarik. Beberapa bank Australia, seperti Commonwealth Bank atau ANZ, punya kemitraan dengan bank Indonesia, jadi biayanya lebih rendah. Cek dulu sebelum berangkat.
Rekomendasi praktis:
- Bawa 300-500 AUD dalam uang tunai (dalam pecahan 50 dan 100 AUD). Ini untuk biaya darurat, transportasi, dan tempat yang tidak terima kartu.
- Pakai kartu debit untuk tarik uang di ATM bank besar (BRI, BNI, Mandiri) di pusat kota. Jangan tarik di ATM kecil di pantai - biayanya lebih mahal dan risiko penipuan lebih tinggi.
- Jangan bawa semua uang dalam satu tempat. Pisahkan uang tunai: satu di dompet, satu di brankas hotel, satu di kantong tersembunyi.
Contoh Anggaran Nyata: 10 Hari di Bali dengan 1.000 AUD
Ini contoh nyata perjalanan 10 hari dengan anggaran 1.000 AUD (sekitar Rp10,5 juta):
- Penginapan: 9 malam di guesthouse di Canggu - Rp450.000 x 9 = Rp4,05 juta (386 AUD)
- Makan: 10 hari x Rp80.000 = Rp800.000 (76 AUD)
- Transportasi: Sewa motor 7 hari (Rp80.000/hari) + ojek online 3 hari (Rp30.000/hari) = Rp560.000 + Rp90.000 = Rp650.000 (62 AUD)
- Tiket wisata: 4 tempat utama = Rp250.000 (24 AUD)
- Oleh-oleh: Kopi Bali 2 kg, kain tenun, kerajinan = Rp1,2 juta (114 AUD)
- Biaya tak terduga: Air mineral, parkir, tip, obat = Rp300.000 (29 AUD)
Total: Rp7,25 juta = 690 AUD. Sisanya Rp3,25 juta (310 AUD) bisa kamu simpan untuk jalan-jalan spontan, atau kamu bawa pulang. Artinya, 1.000 AUD itu cukup - bahkan masih ada sisa.
Yang Harus Dihindari agar Uang Tidak Cepat Habis
Ini kesalahan paling sering dilakukan turis:
- Membeli air mineral di toko wisata: Harganya Rp15.000-Rp25.000 per botol. Di minimarket lokal, cuma Rp4.000-Rp6.000. Bawa botol isi ulang.
- Memesan tur dengan agen di hotel: Tur ke Tegallalang atau Ubud yang dijual di hotel bisa Rp500.000 per orang. Kamu bisa pesan lewat aplikasi lokal (misalnya Klook atau Traveloka) dengan harga Rp200.000-Rp300.000.
- Membeli oleh-oleh di kawasan wisata: Kain tenun di Ubud bisa 3x lebih mahal daripada di pasar tradisional di Gianyar. Tawar harga - itu bagian dari budaya lokal.
- Menggunakan taksi tanpa argo: Jangan naik taksi yang tidak pakai argo. Mereka bisa meminta Rp200.000 untuk jarak 5 km. Gunakan Grab atau Gojek - harganya tertera di aplikasi.
Kapan Kamu Butuh Lebih dari 1.000 AUD?
Kamu perlu lebih dari 1.000 AUD kalau:
- Kamu menginap di villa mewah di Uluwatu atau Seminyak (Rp1,5 juta-Rp3 juta/malam)
- Kamu mau makan di restoran Michelin-starred seperti Naughty Nuriโs atau Metis
- Kamu booking tur helikopter ke Gunung Batur atau pulau Nusa Penida (Rp2,5 juta-Rp5 juta per orang)
- Kamu punya rencana belanja besar: perhiasan emas, seni lukis asli, atau barang antik
Dalam kasus ini, 1.500-2.000 AUD adalah anggaran yang realistis. Tapi jangan lupa: banyak pengalaman di Bali yang gratis - jalan-jalan pagi di Pantai Sanur, naik sepeda ke desa-desa, duduk di warung kopi sambil dengerin gamelan. Uang bukan satu-satunya kunci kebahagiaan di sini.
Pertanyaan Umum tentang Uang di Bali
Apakah saya bisa pakai AUD langsung di Bali?
Tidak. AUD tidak diterima sebagai alat pembayaran di Bali. Semua transaksi harus dalam Rupiah. Kamu bisa menukar AUD di money changer di bandara atau pusat kota, tapi rate-nya tidak sebaik di bank. Lebih baik tarik uang dari ATM pakai kartu debit.
Berapa biaya tarik uang di ATM Bali pakai kartu Australia?
Biaya tarik tunai di ATM Bali biasanya sekitar Rp150.000 per transaksi. Tapi beberapa bank Australia seperti ANZ dan Commonwealth punya kemitraan dengan bank Indonesia, jadi biayanya bisa turun jadi Rp50.000-Rp80.000. Pastikan kamu tahu biaya internasional dari bankmu sebelum berangkat.
Apakah kartu kredit bisa dipakai di semua tempat di Bali?
Tidak. Banyak warung, pasar, dan penginapan kecil hanya terima tunai. Restoran dan hotel besar biasanya terima kartu, tapi sering ada minimum belanja (biasanya Rp500.000). Jangan andalkan kartu - selalu bawa uang tunai secukupnya.
Berapa banyak uang yang sebaiknya saya bawa dari Australia?
Untuk perjalanan 10 hari, bawa 300-500 AUD tunai. Sisanya tarik dari ATM di Bali pakai kartu debit. Jangan bawa semua uang dalam bentuk tunai - risiko kehilangan atau pencurian terlalu tinggi.
Apakah saya perlu tukar uang di bandara?
Tidak disarankan. Rate tukar di bandara biasanya lebih buruk daripada di kota. Cukup bawa 100-200 AUD untuk biaya transportasi dari bandara ke hotel. Tukar sisanya di money changer di Seminyak, Kuta, atau Denpasar - rate-nya lebih baik dan ada pilihan mata uang.
Langkah Terakhir: Siapkan Uang dengan Bijak
Yang paling penting bukan berapa banyak AUD yang kamu bawa, tapi bagaimana kamu mengelolanya. Bali bukan tempat untuk boros - tapi juga bukan tempat untuk pelit. Kamu bisa menikmati semua yang ada di sini tanpa menguras dompet, asal kamu tahu di mana harus mengeluarkan uang dan di mana bisa hemat.
Siapkan anggaran sebelum berangkat. Catat pengeluaran harian. Jangan takut tawar-menawar. Dan yang paling penting - jangan lupa untuk menikmati. Karena yang paling berharga di Bali bukanlah uang yang kamu habiskan, tapi momen yang kamu ciptakan - dan itu tidak bisa dibeli dengan AUD, IDR, atau mata uang apa pun.
Komentar
Aiman Berbagi
Desember 16, 2025 AT 00:15 AMBener banget nih, banyak yang nganggep AUD itu bisa beli dunia di Bali. Tapi pas nyata di lapangan, malah kehabisan uang sebelum hari kelima. Aku dulu pernah bawa 1.500 AUD, tapi cuma pakai 800 karena lebih sering makan di warung dan naik ojol. Yang penting nggak perlu pamer, yang penting nyaman dan nggak stres ngitung duit tiap hari.
Yang paling keren sih kalau bisa ngobrol sama warga lokal, mereka bakal kasih tahu tempat makan enak yang nggak ada di Google Maps. Jangan cuma ikut tur yang dijual di hotel, itu mah harga double.
Ingat, Bali itu bukan Disneyland. Ini rumah orang. Hormati, jangan sok tahu, dan jangan malu tawar-menawar. Itu bagian dari budaya, bukan penipuan.
yusaini ahmad
Desember 18, 2025 AT 00:07 AMAnggaran 1000 AUD untuk 10 hari itu realistis dan bahkan bisa lebih hemat jika kamu menghindari jebakan turis seperti air mineral di toko souvenir dan transportasi taksi tanpa argo. Biaya terbesar sebenarnya bukan penginapan atau makan, tapi oleh-oleh. Banyak yang beli kain tenun di Ubud padahal di Gianyar harganya separuh. Jangan lupa cek harga di pasar tradisional sebelum belanja.
ATM BRI dan Mandiri di pusat kota adalah pilihan terbaik untuk tarik tunai. Hindari ATM di pantai atau dekat pura, biayanya bisa 3x lipat dan risiko skimming tinggi. Selalu gunakan kartu debit dengan fitur international withdrawal yang terjangkau.
yonathan widyatmaja
Desember 19, 2025 AT 03:29 AMWah ini bener-bener panduan hidup! ๐
Aku pernah bawa 500 AUD tunai dan tarik lagi 300 lewat ATM, total 800 AUD dan masih sisa 200 pas pulang. Yang bikin kaget? Kopi di warung lokal cuma 5k, tapi di cafe dekat beach club 50k. Bisa selisih 10x lipat cuma karena lokasi.
Wajib bawa botol minum isi ulang! Aku beli satu di Surabaya, dipake terus di Bali, hemat 200 ribu cuma dari air mineral.
Oh iya, jangan lupa cek rate di app Kompas atau Google sebelum tukar uang. Money changer di Kuta kadang lebih bagus dari bandara, tapi jangan percaya yang ngeyel bilang 'rate terbaik di Bali' ๐
muhamad luqman nugraha sabansyah
Desember 20, 2025 AT 14:51 PMIni panduan yang terlalu lembut. Orang-orang yang bawa 1000 AUD dan masih punya sisa itu bukan turis, itu orang yang nggak pernah jalan-jalan. Kalau kamu benar-benar mau nikmatin Bali, kamu bakal habis 2000 AUD dalam 7 hari. Kenapa? Karena kamu akan tergoda. Kafe dengan pemandangan laut. Spa dengan aroma minyak esensial. Motor baru yang kamu beli karena 'sekalian aja'.
Yang bilang 'nggak perlu mahal' itu orang yang belum pernah ke Tegallalang pas matahari terbit, atau belum nyobain makan di Metis. Uang itu alat, bukan tujuan. Tapi jangan pura-pura hemat kalau kamu sebenarnya nggak mau ngeluarin duit buat pengalaman.
Yang penting jangan jadi orang yang ngerasa superior karena bisa hemat. Bali bukan tempat untuk menang dalam permainan uang. Bali tempatnya kamu belajar bahwa kebahagiaan itu nggak punya harga.
wawan setiawan
Desember 21, 2025 AT 09:29 AMMenarik banget liat orang-orang ngotot ngasih angka persis: 570 AUD, 1000 AUD, 1430 AUD. Seolah-olah hidup bisa dihitung pakai kalkulator.
Kalau kamu bawa 1000 AUD dan nggak habis, berarti kamu nggak hidup di Bali. Kamu cuma numpang lewat. Bali itu bukan tempat buat menghitung tiap rupiah, tapi tempat buat merasakan tiap detik.
Yang penting bukan berapa banyak uang yang kamu bawa, tapi seberapa sering kamu bisa duduk di warung, ngerasain angin laut, dan ngejelasin ke anak kecil di sebelahmu bahwa 'ini bukan uang, ini pengalaman'.
Uang itu alat. Tapi yang bikin kamu kaya sebenarnya adalah yang nggak bisa kamu beli.
...dan iya, jangan beli kain tenun di Ubud. Di Gianyar harganya setengah. Tapi kalau kamu beli di Ubud, kamu juga beli cerita. Dan cerita itu mahal.
Dani leam
Desember 23, 2025 AT 04:09 AMRekomendasi tarik tunai lewat ATM BRI/Mandiri di pusat kota akurat. Biaya tarik tunai memang tinggi, tapi lebih aman daripada bawa banyak uang tunai. Jangan lupa cek limit harian kartu debit kamu sebelum berangkat, banyak yang kaget pas limitnya cuma 1 juta per hari.
Untuk wisata, lebih baik pesan lewat Klook daripada agen hotel. Harga bisa 40% lebih murah dan ada review dari turis lain. Jangan percaya janji 'private tour murah' dari orang di jalan, itu biasanya penipuan.
Rahmat Widodo
Desember 24, 2025 AT 10:29 AMIni komentar yang sangat seimbang. Aku pernah ke Bali dua kali, yang pertama bawa 2000 AUD dan habis semua, yang kedua bawa 1000 AUD dan masih sisa. Perbedaannya? Di trip pertama aku ikut semua tur, beli banyak oleh-oleh, dan makan di restoran yang pake lampu gantung. Di trip kedua, aku jalan kaki, makan di warung ibu-ibu, dan ngobrol sama penjual kopi yang udah 30 tahun di Kuta.
Yang bikin pengalaman itu berharga bukan uangnya, tapi kehadiranmu. Kalau kamu terus ngecek dompet, kamu nggak akan liat matahari terbenam di Pantai Sanur.
Yang penting: bawa uang secukupnya, tapi bawa hati yang terbuka. Itu yang nggak bisa diukur dalam AUD atau IDR.
Yuliana Preuร
Desember 25, 2025 AT 14:10 PMYuk, jangan lupa bawa baju ganti yang nyaman! ๐
Aku pernah bawa 1000 AUD dan habisnya bukan karena makan atau wisata, tapi karena beli baju! Di Bali banyak toko yang jual baju batik motif cantik cuma 80k. Tapi kalau kamu liat satu, kamu bakal pengen beli lima. Jadi, tetap buat budget khusus buat baju, jangan sampai kelebihan.
Yang paling aku suka? Nongkrong di warung kopi sambil dengerin gamelan dari kejauhan. Nggak perlu bayar, tapi bikin hati tenang. ๐ฟ
Oh iya, jangan lupa bawa sunblock! Matahari Bali itu bukan main-main. Aku pernah kena sunburn karena nggak pakai, malah beli salep di apotek 150k. Sayang banget ๐
Emsyaha Nuidam
Desember 27, 2025 AT 10:00 AM1000 AUD? Itu angka untuk turis kelas dua. Kalau kamu benar-benar ingin merasakan Bali yang autentik, kamu harus siap mengeluarkan minimal 2500 AUD - bukan karena kamu boros, tapi karena kamu menghargai kualitas. Makan di Metis, menginap di villa pribadi dengan pemandangan laut, dan mengikuti ritual spiritual dengan guru lokal - itu bukan 'pengeluaran', itu investasi pada transformasi diri.
Yang bawa 500 AUD dan bilang 'cukup' itu cuma orang yang belum pernah merasakan keindahan sejati. Mereka puas dengan nasi campur dan ojol. Tapi hidup bukan tentang bertahan. Hidup adalah tentang menikmati - dan itu mahal.
PS: Jangan percaya 'tawar-menawar itu budaya'. Itu hanya alasan orang lokal buat menipu turis yang nggak tahu harga sebenarnya.